Oktober…
Bulan yang selalu saya rindukan. Bukan hanya karena Oktober adalah bulan kelahiran saya, tetapi juga karena bulan ini selalu mengingatkan bahwa satu tahun lagi telah berlalu dalam perjalanan hidup.
Bertambahnya usia berarti semakin tua, semakin panjang perjalanan yang telah dilalui, dan semakin banyak pula pengalaman yang terkumpul. Rasanya, semakin bertambah umur, semakin saya memahami bahwa menjalani hidup memiliki makna yang begitu luas.
Ada banyak hal baru yang kita pelajari, banyak cerita yang datang tanpa direncanakan, dan tentu saja semakin banyak asam garam kehidupan yang kita rasakan. Ada yang membahagiakan, ada yang melelahkan, tetapi semuanya perlahan menjadi bagian dari cerita hidup yang kelak bisa dikenang.
Dan Oktober tahun ini terasa sedikit lebih istimewa.
Kehadiran Andi Kayden, Anggota Baru Keluarga Kami
Bulan ini, keluarga besar kami kedatangan anggota baru. Seorang bayi laki-laki yang sangat tampan, anak dari adik saya, yang diberi nama Andi Kayden.

Selamat datang di dunia, Andi Kayden!
Semoga tumbuh menjadi anak yang sehat, bahagia, penuh kasih sayang, dan selalu dikelilingi oleh orang-orang baik. Semoga setiap langkah hidupmu kelak dipenuhi keberkahan dan kebahagiaan. Aamiin.
Kehadiran Kayden menjadi salah satu kebahagiaan tersendiri di bulan kelahiran saya ini.

Karena semuanya berlangsung cukup mendadak, saya dan Nara akhirnya memutuskan untuk berangkat ke Jakarta menghadiri acara aqiqah Kayden.
Bagi yang belum familier, aqiqah merupakan salah satu bentuk rasa syukur dalam Islam atas kelahiran seorang anak. Biasanya ditandai dengan penyembelihan kambing dan pemotongan rambut bayi. Untuk anak laki-laki, dianjurkan dua ekor kambing, sedangkan anak perempuan satu ekor.
Hihi… jadi selain berkumpul bersama keluarga, perjalanan kali ini juga menjadi momen istimewa untuk menyambut kehadiran anggota baru kami.
Namun, ternyata ada cerita lain yang jauh lebih menegangkan sekaligus menggelikan di balik perjalanan ini.
Pengalaman Pertama Naik Pesawat Berdua dengan Nara
Ini adalah pengalaman pertama saya dan Nara bepergian naik pesawat hanya berdua.
Kedengarannya sederhana, ya?
Tapi bagi saya, ini adalah sebuah tantangan tersendiri. Biasanya setiap bepergian dengan pesawat selalu ada yang menemani. Kali ini kondisinya berbeda. Mamanya Nara sedang sekolah sehingga tidak memungkinkan untuk meninggalkan kota.
Artinya, semua urusan Nara selama perjalanan menjadi tanggung jawab saya seorang diri.
Saya sebenarnya cukup waswas membayangkan bagaimana repotnya bepergian sendiri dengan seorang toddler. Apalagi yang dibawa ini adalah Andinala, anak yang energinya seolah tidak pernah habis.
Kalau sudah bergerak, persis seperti sapidermang. Ke sana kemari, naik turun, berlari, melompat, dan selalu menemukan sesuatu yang menarik untuk dijelajahi.
Entah baterainya pakai apa. Hahaha…
Setelah mempertimbangkan berbagai kemungkinan, akhirnya saya memutuskan membeli tiket penerbangan malam ke Jakarta.
Logikanya sederhana: kalau terbang malam, Nara pasti mengantuk dan tidur selama perjalanan. Jadi saya tidak perlu terlalu repot menjaganya di dalam pesawat.
Setidaknya, itulah skenario indah yang sudah saya susun dalam kepala.
Bismillah aja deh…
Kadang menjadi orang tua memang harus sedikit nekat, sambil berharap semua berjalan sesuai rencana.
Drama di Bandara: Saat Panggilan Boarding dan Nara Mendadak BAB
Long story short…
Perjalanan menuju bandara berjalan cukup lancar. Proses check-in hingga pemeriksaan keamanan juga aman terkendali.
Saya mulai sedikit lega.
“Ah, ternyata tidak sesulit yang dibayangkan,” pikir saya.

Sesampainya di ruang tunggu, Nara melihat area bermain anak yang dilengkapi perosotan dan rumah-rumahan kecil. Tentu saja ia langsung meminta untuk bermain di sana.
Kebetulan ada seorang anak lain yang juga sedang menunggu penerbangan, sehingga mereka pun asyik bermain bersama.
Saya duduk mengawasi sambil menikmati ketenangan sesaat.
Namun, setelah cukup lama bermain, saya melihat sesuatu yang agak mencurigakan.
Kenapa ini Nara tiba-tiba mojok?
Posisinya jongkok, diam, dengan ekspresi yang sangat serius.
Hmmm…
Sebagai orang tua, gestur seperti ini tentu sudah sangat familier. Alarm dalam kepala saya langsung berbunyi.
Jangan-jangan dia sedang buang air besar!
Dalam hati saya langsung berdoa.
“Ya Allah, mudah-mudahan beraknya nanti saja pas sudah sampai rumah. Biar ada yang bantu urusinnya.”
Ternyata doa saya dikabulkan.
Hanya saja, waktunya sedikit dimajukan.
Tepat ketika pengumuman boarding pesawat mulai terdengar, Nara berjalan mendekati saya dengan wajah polosnya.
Lalu dengan santai dia berkata,
“Tatta, sudah berak Andinala.”
Hening sejenak.
Saya speechless.
Lalu spontan tertawa. HAHAHAHA!
Ya Allah, Nara…
Kenapa harus sekarang? Kenapa harus pas injury time mau naik pesawat?!
Antara ingin tertawa, panik, dan bingung harus mulai dari mana.
Tidak ada waktu berpikir panjang. Mode sapidermang langsung aktif!
Saya segera menggendong Nara dan bergegas menuju toilet untuk membersihkan semuanya.
Bayangkan, harus mengurus toddler yang baru BAB, di toilet bandara, dengan kondisi pesawat sudah memanggil penumpang untuk boarding.
Sungguh, sungguh di luar nalar! Hahaha…
Setelah perjuangan singkat tetapi cukup menguras energi itu, akhirnya semua urusan selesai. Kami pun buru-buru menuju pintu keberangkatan.
Syukurlah masih sempat naik pesawat, meskipun sedikit terlambat. Kami juga mendapat kemudahan untuk naik karena membawa anak kecil.
Alhamdulillah, satu tantangan berhasil dilewati.
Tinggal satu lagi: membuat Nara tidur selama penerbangan.

Rencana Tidur di Pesawat yang Gagal Total
Sejak awal saya sengaja memilih penerbangan malam dengan satu harapan besar: Nara akan tidur sepanjang perjalanan menuju Jakarta.
Ternyata…
Prediksi saya meleset jauh.
Bukannya mengantuk, Nara justru terlihat sangat bersemangat. Sepanjang penerbangan ia tidak berhenti mengoceh, bertanya, mengajak bermain, dan memperhatikan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
Dari pesawat lepas landas sampai akhirnya mendarat di Jakarta, energinya masih saja penuh.
Saya sampai heran sendiri.
Ini anak baterainya kapan habis, ya? Hahaha…
Sementara saya yang sejak awal membayangkan bisa duduk tenang selama perjalanan, akhirnya harus tetap siaga menemani segala aktivitasnya.
Namun, di tengah segala kerepotan itu, ada perasaan lain yang sulit dijelaskan.
Melihat Nara begitu antusias menikmati pengalaman bepergian, saya mulai menyadari bahwa mungkin perjalanan ini bukan sekadar tentang menghadiri aqiqah atau pergi ke Jakarta.
Ini juga pengalaman baru bagi kami berdua.
Bagi Nara, mungkin ini hanyalah perjalanan menyenangkan bersama Tatta. Tetapi bagi saya, ini adalah pengalaman belajar menjadi orang tua yang lebih sabar, lebih sigap, dan lebih siap menghadapi hal-hal yang tidak terduga.
Perjalanan Kecil yang Menjadi Kenangan Besar
Begitulah hidup.
Kita bisa menyusun rencana sebaik mungkin, memperhitungkan segala kemungkinan, bahkan memilih jadwal penerbangan yang menurut kita paling ideal.
Tetapi pada akhirnya, tidak semuanya berjalan seperti yang dibayangkan.
Saya berharap Nara BAB setelah sampai rumah, ternyata justru saat panggilan boarding. Saya berharap ia tertidur sepanjang penerbangan, ternyata malah aktif bermain dan mengobrol sampai Jakarta.
Namun, mungkin justru di situlah letak indahnya perjalanan ini.
Ada kejadian-kejadian kecil yang pada saat mengalaminya terasa begitu merepotkan, tetapi ketika dikenang kembali justru membuat kita tersenyum sendiri.
Barangkali beberapa tahun lagi, saat Nara sudah besar, saya akan menceritakan kembali bagaimana ia pernah membuat Tattanya berlari panik ke toilet bandara beberapa menit sebelum naik pesawat.
Dan mungkin kami akan tertawa bersama.
Pada akhirnya, saya percaya kita hanya bisa berencana, berusaha, dan berdoa. Tuhan yang menentukan bagaimana semuanya berjalan.
Mungkin melalui perjalanan ini saya sedang diajarkan untuk menjadi lebih sabar, lebih ulet, dan lebih mandiri dalam mengurus princess kecil saya.
Alhamdulillah, kami akhirnya mendarat di Jakarta dengan selamat.
Sebuah perjalanan pertama yang tidak sepenuhnya sesuai rencana, tetapi justru meninggalkan cerita yang rasanya akan selalu saya ingat.
Oktober tahun ini memang berbeda.
Ada usia yang bertambah, anggota keluarga baru yang hadir, dan pengalaman pertama yang memberikan pelajaran sederhana tentang kehidupan.
Semakin saya bertambah usia, semakin saya menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari peristiwa besar. Kadang ia hadir dalam bentuk perjalanan singkat, tingkah polos seorang anak, atau momen-momen kacau yang kelak menjadi kenangan paling berharga.
Selamat datang, Andi Kayden. Dan terima kasih, Nara, sudah memberikan satu lagi cerita indah dalam perjalanan hidup Tatta.

Sampai jumpa di cerita perjalanan berikutnya.
Oktober, 2026..

