Halo semuanya! Akhirnya saya bisa update lagi setelah dua minggu menghilang. Banyak sekali hal yang saya lewati dalam dua minggu ini—mulai dari perjalanan dinas ke Jakarta hingga pengalaman kurang menyenangkan karena sakit nyeri ulu hati. Oke, mari kita bahas satu per satu!
Kangen Berat Sama Andinala
Selepas pulang dari perjalanan dinas ke Jakarta, baru sehari di rumah saja saya sudah kangen berat dengan Andinala. Entah kenapa, ini pertama kalinya saya jauh dari anak selama beberapa hari dan rasanya kok jadi mellow ya. Selalu kepikiran kelucuannya dan tingkah lakunya yang makin pintar setiap hari.
Sekarang Andinala sudah bisa berhitung dari 1 sampai 10, menyebutkan berbagai warna, dan sudah bisa membedakan mana “kakak” dan mana “adik”—versi dia sendiri tentunya. Kalau orangnya besar, dipanggil kakak. Kalau lebih kecil, dipanggil adik. Logika sederhana yang lucu tapi masuk akal juga, ya!
Selain itu, dia juga sedang senang-senangnya memanjat. Gaya favoritnya adalah gaya sapidermang alias Spider-Man versi lokal. Dia memanjat dari dipan kasur lalu naik ke kursi. Pokoknya benar-benar spidey dalam versi balita, bikin orang tua deg-degan sekaligus ngakak.
Ulang Tahun Pernikahan yang Hampir Terlupakan
Tanggal 17 November kemarin adalah hari ulang tahun pernikahan saya dan Zakiah yang ke-3. Jujur saja, saya termasuk tipe orang yang sering lupa tanggal, termasuk tanggal penting. Dan… ya, tahun ini pun tanpa sengaja saya benar-benar lupa lagi. Bukan alasan, tapi memang lupa beneran!
Ada satu kejadian lucu yang selalu saya ingat terkait masalah lupa tanggal. Waktu itu kami sedang mengurus pembuatan paspor untuk Andinala dan Cunli di kantor imigrasi. Ketika saya turun untuk mengambil formulir, istri saya menunggu di mobil bersama Nara.
Saya pun mulai mengisi data diri anak. Saat menuliskan tanggal lahir, saya sempat bercanda ke Putri (adik ipar) bahwa kalau saya salah memasukkan tanggal lahir Nara, bisa-bisa saya dimarahi ibunya. Putri mengiyakan sambil melihat formulir yang saya isi.
Tidak lama kemudian, istri dan Nara masuk ke ruangan. Begitu melihat formulirnya, dia langsung berkata:
“Ini tanggal ulang tahun siapa?”
Jrenggg… jrenggg… jrenggg…
Saya langsung terdiam mematung. Putri pun tertawa cekikikan di samping saya. Ketika saya cek ulang, ternyata benar—tanggal lahirnya salah! Saya menulis 2 Juli 2024, padahal harusnya 2 April 2024. Salah bulan, saudara-saudara!
Karena kebodohan polos saya itu, akhirnya saya harus mentraktir istri makan sushi agar suasana kembali kondusif. Hahaha.
Pelajaran Penting Buat Para Suami
Sejak kejadian itu, saya belajar satu hal penting:
Para suami wajib hafal tiga tanggal: tanggal lahir anak, tanggal lahir istri, dan tanggal pernikahan.
Kalau lupa? Habis sudah nasibmu. Hahaha!
Sejak hari itu saya tidak pernah lagi salah mengingat tanggal ulang tahun Andinala maupun tanggal-tanggal penting lainnya. Trauma itu nyata, teman-teman!
Sekian dulu cerita panjang saya kali ini. Besok—kalau tidak ada halangan—akan saya lanjutkan lagi. Terima kasih sudah membaca sampai habis. Hihihi.










