Cerita Beberapa Minggu Terakhir: Perkembangan Anak dan Pengalaman Melepas Empeng

Cerita Beberapa Minggu Terakhir: Perkembangan Anak dan Pengalaman Melepas Empeng

Pembuka

Halo, selamat siang.
Berjumpa lagi dengan saya di sini.

Tidak terasa sudah lebih dari tiga minggu saya tidak meng-update blog pribadi ini. Banyak alasannya—mulai dari pekerjaan yang menumpuk dan semakin padat, hingga kondisi kesehatan yang sempat kurang baik. Jujur saja, sampai-sampai saya bingung harus mulai dari mana.

Namun karena ini adalah blog pribadi, rasanya tidak perlu terlalu dipikirkan. Ya sudah, mulai saja dulu, ya kan. Hehehe.

Perkembangan Anakku Tercinta

Saya ingin mulai dengan cerita tentang perkembangan anakku tercinta, Andi Aylana.

Semakin hari, kelakuannya semakin banyak dan semakin lucu. Menggemaskan sampai-sampai saya suka geleng-geleng kepala sendiri—kadang juga gigit jari karena gemas.

Sekarang, Andi sudah bisa membedakan beberapa warna, dan warna favoritnya adalah pink. Setiap melihat warna itu, dia selalu bilang, “PINKKK!” dengan penuh semangat.

Selain itu, Andi juga sudah bisa berhitung dari satu sampai sepuluh. Bagian paling menggemaskan sekaligus bikin saya was-was adalah saat dia menghitung anak tangga sambil menaikinya satu per satu. Deg-degan, tapi bangga.

Anak Aktif, Ibunya Ikut Ngos-ngosan

Semua perkembangan itu tentu dibarengi dengan kelincahan yang luar biasa. Saking aktifnya, saya sering ngos-ngosan kalau kejar-kejaran sama dia.

Sepertinya ini sudah jadi pengingat untuk saya sendiri: sudah saatnya memperbaiki stamina dan mulai rutin olahraga kardio lagi.

Kesukaan Baru: Nonton BING

Belakangan ini, Andi juga suka menonton BING.
Saya membiarkan dia menontonnya karena menurut saya, bahasa yang digunakan cukup kaku dan tidak terlalu cepat, sehingga mudah dicerna oleh anak-anak. Lumayan juga sekalian untuk belajar bahasa.

Tantangan Besar: Melepas Empeng

Beberapa minggu terakhir, saya mulai melatih Andi untuk melepas empeng.
Alasannya karena saya melihat pertumbuhan giginya agak tidak teratur, dan saya khawatir empeng menjadi salah satu penyebabnya—apalagi empeng yang digunakan adalah empeng biasa.

Ini menjadi tantangan besar karena Andi sudah terbiasa menggunakan empeng sejak bayi. Awalnya dulu, empeng digunakan karena frekuensi minum susunya lebih cepat daripada produksi ASI. Akhirnya, empeng menjadi solusi, dan tanpa terasa kebiasaan itu bertahan hingga sekarang.

Malam-Malam Panjang Tanpa Empeng

Hari pertama tanpa empeng benar-benar berat.
Andi sangat sulit tidur. Dia terus bertanya, “Mana empeng?” sambil memanggil-manggil, “Empeng… empeng…” Lucu, tapi juga bikin hati teriris.

Akhirnya dia baru bisa tidur setelah benar-benar kecapekan bermain. Itu pun, tengah malam dia terbangun dan mulai rewel karena empeng tidak ada di mulutnya. Dia berguling ke sana kemari, menangis, dan terlihat kebingungan.

Jujur saja, rasanya kasihan sekali. Tapi saya harus tega demi kebaikannya sendiri. Setiap kali dia terbangun, saya gendong dan menenangkannya.

Malam-malam itu membuat saya sangat kurang tidur. Namun tidak apa-apa—semua demi anak tercinta.

Perlahan Mulai Terbiasa

Kondisi ini berulang dari malam pertama hingga sekitar malam ketujuh. Polanya hampir sama.
Namun, alhamdulillah, sekarang Andi mulai terbiasa. Dia sudah jarang terbangun di tengah malam dan ketika tidur pun sudah mulai melupakan empeng.

Perjalanan yang melelahkan, tapi penuh makna.

Penutup

Itulah cerita beberapa minggu terakhir dari saya.
Insyaallah, semoga ke depannya saya bisa lebih rutin meng-update blog ini lagi. Mudah-mudahan bisa menulis lagi Senin depan.

Ciaooo.